English Language Academic Publishing

  • Workshop 4 Sesi : 1.The State of the art : Modern Academic Publishing 2.What Do Editors Look for in Manuscripts 3.Open Access : Unresolved Issues 4.Writing for Publication inEnglish Selasa 13 Mei 2014 Pkl. 09:00 – 15:30 WIB Auditorium Juwono Sudarsono TErbuka untuk : -Dosen Inti Penelitian FISIP UI -Dosen Tetap FISIP UI -Dosen Tidak Tetap FISIP UI yang menjadi peneliti di Kajian Pusat Kajian -Mahasiswa S3 FISIP UI (sudah seminar hasil) Terbatas untuk 50 peseerta

    19 Feb
    19 Feb
  • Saiful Munjani Research and Consulting (SMRC) bersama Pusat Kajian Politik (Puskapol) UI menyelenggarakan diskusi dengan tajuk “Memperkuat Presidensialisme Multipartai di Indonesia: Pemilu Serentak, Sistem Pemilu, dan Sistem Kepartaian” yang bertempat di Auditorium Juwono Sudarsono pada 12 februari 2015. Terdapat tiga pembicara yang menjadi narasumber di dalam diskusi kali ini. Ketiga narasumber tersebut adalah Djayadi Hanan selaku Direktur Utama SMRC, Prof. Saldi Isra yang merupakan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Andalas, dan Yolanda Panjaitan peneliti senior Puskapol UI. Fokus dari diskusi ini adalah mengenai bagaimana upaya untuk menguatkan sistem presidensial di Indonesia yang dinilai memiliki masalah bawaan. Masalah bawaan tersebut muncul dengan adanya keterpisahaan antara legislatif dan eksekutif yang memiliki legitimasi yang kuat satu sama lain, sehingga apabila terdapat konflik diantara kedua lembaga ini seringkali mengalami kebuntuan dan mempengaruhi jalanya pemerintahan. Hal inilah yang coba di gali dalam oleh Djayadi Hanan dengan mengaitkan dengan sistem pemilihan serentak yang akan digulirkan pada 2019 mendatang. Djayadi Hanan berargumen bahwa penguatan sistem presidensial dapat dilakukan dengan menyederhanakan sistem kepartaian dalam memastikan dukungan kepada pemerintah sebagai koalisi eksekutif. Namun dari hasil makalahnya ia menyimpulkan bahwa sistem pemilu serentak tidak akan terlalu signifikan dalam menyederahanakan sistem kepartaian sehingga dinilai belum cukup mampu untuk menguatkan sistem presidensil. Namun pemilihan serentak dianggap cukup signifikan dalam mengurangi anggaran pemerintah. Prof. Saldi Isra turut menambahkan bahwa selain penyederahanaan sistem kepartaian, sistem presidensil juga membutuhkan figur presiden yang mampu melakukan persuasi politik dalam sistem multipartai yang ada di Indonesia. Sedangkan Yolanda Panjaitan memberikan komentar bahwa lemahnya kinerja pemerintahan dengan sistem presidensil yang kita anut saat ini adalah dikarenakan legislatif membentuk kartel politik yang hanya menguntungkan kelompoknya saja. Diskusi ini sendiri diselenggarakan untuk mengkaji sistem pemilihan serentak yang akan diadakan tahun 2019 mendatang. Diskusi ini juga diadakan untuk menanggapi permasalahan sistem presidensil yang terjadi akhir-akhir ini dimana tidak menentunya dukungan politik yang diberikan legislatif terhadap presiden Jokowi yang berpengaruh terhadap jalanya pemerintahan

    19 Feb
    19 Feb
  • Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kepala Bappenas Republik Indonesia Andrinof A. Chaniago menjadi pembicara dalam Dies Natalis FISIP UI ke-47 dengan tema “Pengarusutamaan Bidang Sosial dan Budaya dalam Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia”. Orasi tersebut bertempat di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI, pada 2 Februari 2015 . Peringatan Dies FISIP UI ini turut dihadiri Rektor Prof. Dr. Muhammad Anis, M.Met, Dekan FISIP UI Dr. Arie Setiabudi Soesilo, M.Sc, serta segenap Guru Besar, dosen, mahasiswa, dan staff karyawan di lingkungan FISIP UI. Dalam orasinya Menteri PPN / Kepala Bappenas Andrinof Chaniago menuturkan bahwa semestinya agenda pembangunan nasional menjadi perhatian semua pihak, terutama masyarakat ilmiah dan kalangan terpelajar terutama para civitas akademika. Pada pidatonya Adrinof memberi perhatian kepada tiga topik utama, yaitu mengenai konsep dan strategi pembangunan, pengarustamaan bidang sosial budaya dalam perencanaan pembangunan, dan peran ilmu-ilmu sosial dalam pembangunan. Melanjutkan tiga pembahasan pada tiga topik tersebut, Andrinof merumuskan bahwa pembangunan merupakan upaya sistematis dan terencana untuk meningkatkann kualitas hidup manusia dan masyarakat secara berkelanjutan, dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara optimal, efisien, efektif, dan akuntabel. Mengingat pembangunan berpusat pada manusia, maka keseluruhan upaya pembangunan harus ditujukan untuk mengoptimalkan segenap potensi yang dimiliki oleh setiap manusia. Dalam menjalankan pembangunan tersebut, bidang sosial budaya memainkan peran yang penting untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan memperbaiki kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Dalam hal ini para ilmuan sosial dapat berperan dalam menyumbang kontribusi pembangunan dengan menganalisis dan mengkaji melalui penelitian empiris di lapangan serta menyumbang konsep dan pemikiran baru mengenai pembangunan, mengikuti perkembangan terbaru di berbagai ilmu pengetahuan.

    19 Feb
    19 Feb
Goto :